Budidaya Singkong: Usaha Pertanian Tahan Banting dengan Nilai Ekonomi Menjanjikan
Singkong atau ketela pohon merupakan salah satu tanaman pangan yang sangat populer di Indonesia. Selain menjadi sumber karbohidrat alternatif pengganti beras, singkong juga memiliki potensi besar dalam berbagai industri, mulai dari makanan, pakan ternak, hingga bahan baku bioetanol. Kelebihan utamanya adalah kemampuannya bertahan di lahan kering serta minim perawatan, menjadikannya pilihan yang menarik bagi petani kecil maupun pelaku agribisnis skala besar.
Singkong sangat cocok ditanam di wilayah tropis seperti Indonesia karena mampu tumbuh dengan baik di berbagai kondisi tanah, bahkan pada lahan yang kurang subur sekalipun. Dengan teknik budidaya yang tepat, hasil panen singkong bisa mencapai 25 hingga 35 ton per hektare. Beberapa varietas unggul yang banyak ditanam antara lain Adira 4, Malang 4, dan Cassava UJ-5. Varietas-varietas ini terkenal karena produksinya yang tinggi serta kandungan patinya yang cocok untuk industri olahan.
Budidaya singkong dimulai dari persiapan lahan. Lahan perlu dibajak atau dicangkul sedalam 20–30 cm agar tanah menjadi gembur. Penanaman sebaiknya dilakukan saat awal musim hujan, dengan menggunakan batang bibit yang berumur 10–12 bulan dan memiliki 5–7 mata tunas. Bibit ditanam miring 45 derajat dengan kedalaman sekitar 5–10 cm. Jarak tanam yang umum digunakan adalah 100 x 80 cm untuk budidaya intensif. Perawatan cukup sederhana: penyiangan gulma dilakukan beberapa kali selama masa pertumbuhan, dan pemupukan dilakukan menggunakan pupuk organik atau kombinasi NPK agar pertumbuhan optimal.
Panen singkong umumnya dilakukan pada usia 8–12 bulan setelah tanam, tergantung pada varietas dan kondisi lahan. Tanda bahwa singkong siap panen adalah daun bagian bawah mulai menguning dan batang mengeras. Singkong yang dipanen dapat langsung dijual dalam bentuk segar, atau diolah menjadi produk bernilai tambah seperti keripik, getuk, tepung tapioka, hingga bahan baku bioetanol.
Dari sisi ekonomi, budidaya singkong tergolong menguntungkan. Dengan modal sekitar Rp16 juta per hektare, seorang petani dapat menghasilkan pendapatan kotor mencapai Rp30 juta apabila harga jual di tingkat petani berkisar Rp1.000 per kilogram. Artinya, ada potensi keuntungan bersih sekitar Rp14 juta per siklus tanam. Nilai ini tentu bisa lebih tinggi jika petani mampu mengolah singkong menjadi produk turunan yang bernilai jual lebih tinggi.
Untuk memaksimalkan potensi keuntungan, petani dianjurkan untuk bergabung dalam kelompok tani atau koperasi. Selain mempermudah akses pupuk dan bibit berkualitas, koperasi juga bisa menjadi jembatan menuju pasar yang lebih luas, termasuk ke sektor industri makanan dan energi terbarukan. Tak hanya itu, inovasi seperti penggunaan mulsa organik, diversifikasi varietas, serta integrasi dengan tanaman sela (misalnya kacang tanah) juga bisa meningkatkan efisiensi dan hasil panen.
Singkong adalah komoditas yang sering kali diremehkan, namun kenyataannya justru menyimpan potensi luar biasa. Dengan permintaan pasar yang stabil dan kemampuan tumbuh di berbagai jenis lahan, singkong layak menjadi salah satu tumpuan pertanian masa depan yang tahan terhadap krisis. Budidaya singkong bukan hanya solusi untuk ketahanan pangan, tetapi juga peluang bisnis nyata yang bisa dikembangkan secara berkelanjutan.
Comments
Post a Comment